Peziarah yang Ditakdirkan Karam

Aku tidak suka kata "Karam," 
Rasanya itu kejam dan dingin. Dalam, tak bergeming, dan berhenti seperti menjatuhkan jangkar di zona abisal. Namun, aku sadar bahwa tidak semua "kenapa" di dunia ini memiliki "karena". Adakalanya kita hanya perlu merangkul apa yang sudah terjadi dan tidak perlu mengais untuk menemukan alasan di balik semua itu, selain bersangka baik.

Suatu sore aku bercerita kepada karibku, tentang banyaknya pertimbangan sporadisku itu. Karibku yang sudah hafal sifatku dan tidak pernah lelah menjawab semua rasionalisasiku berkata, "Berhenti, Za. Itu hanya di kepalamu. Ikhlas, tidur, lupakan." I told them, "I wish i could, but I can't. It is a tangled mess. I need to fix it."

Berjalannya waktu, aku menyadari bahwa hidup tidak sehitam-putih itu. Dua nasihat yang saling bertentangan boleh jadi tidak saling eksklusif. Belajar ikhlas dan melupakan bukan berarti kita menumpulkan usaha dan hanya berdiam. Ikhlas pula berarti berserah bukan menyerah tanpa melakukan usaha apapun atau sekadarnya. Berusaha juga bukan berarti kita telah menggenggam hasil. 
Sumber: Canva

Aku menyadari bahwa aku tidak perlu mematikan sisi diriku yang selalu menuntut penjelasan logis, aku hanya perlu belajar untuk menyadari bahwa tidak semua harus dikendalikan. Kita perlu berhenti.

Ya, berhenti. Berhenti mengais-ngais dan menganalisis serpihan pola-pola yang sejatinya hanya korelasi bukan kausal. 
Berhenti untuk memaksa menemukan jawaban detik itu juga. Berhenti untuk mengandalkan diri sendiri. Terkadang dengan pemberhentian itulah diri kita bisa jauh lebih banyak belajar dan bertanya, lalu apa berikutnya?

Diri ini juga masih sangat perlu untuk belajar memanfaatkan ruang pemberhentian ini. Terkadang, manusia begitu tergesa-gesa dan terkadang pula begitu lamban dalam mengambil tindakan. Menemukan ritme yang harmonis juga tidak semudah yang dibayangkan, tetapi bukankah manusia mampu membaca pola? Sejatinya masing-masing diri kita, harus belajar dan menyadari pola-pola unik ini. Layaknya peziarah yang ditakdirkan karam, kita tidak dianugerahi kemewahan untuk membatalkan realitas. 

Manusia benci ketidakpastian, tetapi di titik inilah kita paling banyak berserah, ikhlas, berharap, takut, dan emosi lainnya yang unik itu. Menyadari bahwa kita tidak tahu dan tidak akan pernah tahu adalah bagian dari keindahan menjadi manusia. 

Tabik!

Credit Inspirasi Judul:

Komentar

Postingan Populer