Melihat Dengan Hati, Hati.
Sore itu hujan deras, aku duduk di kedai kopi. Baru saja menyelesaikan project terakhir dari UAS dengan hati yang cukup lega. Setelah segala hiruk pikuk semester 6 dan bergelut dengan modul dan riset akhirnya pengumpulan tugas terakhir telah bertemu tombol submit.
Aku mencoba merefleksikan kembali hidup yang telah aku jalani belakangan ini. Lalu mengelola dan menata diri untuk menjadi lebih baik ke depannya. Aku berkaca pada hari-hari yang telah aku lewati. Kemudian bergumam, "sebenarnya siapa aku saat tidak ada orang lain yang melihatku?"
Aku baru saja membaca tulisan Kak Rakean di Medium dengan judul "Wanginya Saf Pertama," beliau capture it beautifully bahwa terkadang diperlukan nudge sederhana untuk mendorong kita menjadi lebih baik. Entah itu berupa keharuman sajadah untuk memperpanjang sujud agar lebih lama ataupun hal lain yang menuntun mu untuk memperpanjang retensi kebaikan bahkan ketika realitas yang sangsi terhadap prinsip mu. Sebab pada akhirnya, kita harus belajar untuk memilih dan memilah strategi paling proporsional untuk mengembangkan diri kita agar lebih baik lagi.
Hal kecil yang membuat kita kembali bersemangat berproses juga harus kita sadari dengan hati, hati. Di caseku, aku akan membeli kue yang selaras dengan namaku. Kue Pie dan atau matcha.
Dalam prosesnya pula aku semakin sadar, bahwa semua telah terukir pada konstalasi langit. Tugas kita, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, memantaskan diri agar dilirik Tuhan sebagai hamba yang siap menerima. Layaknya quotes instagram yang sempat aku save beberapa waktu lalu;
Pict from IG: @poetryandgahwa
Pada hakikatnya, proses yang kita lalui, apapun itu, harus berhasil kita maknai keindahannya dan terkadang keindahannya itu tidak bisa dilihat detik itu juga. Diperlukan lensa yang harus sudah diupgrade. Pun juga, tidak harus selalu pelangi yang menjadi instrumen tangiblenya, boleh jadi badai.
Sore itu aku melihat hujan tak lagi sama, semua kedatangan dan kepergian itu indah. Keberhasilan, kegagalan, atau ruang tunggu di antara keduanya adalah hal yang tidak boleh melunturkan semangat untuk meraih yang kita inginkan karena semua yang abadi tidak harus dimiliki, apalagi yang tidak. Oleh karena itu, mari merayakan semuanya.
Aku saat tidak ada orang lain melihatku adalah aku. Dengan semua proses perbaikan dan ketidaksempurnaannya. Ternyata, aku tidak berubah, aku belajar. Belajar untuk selalu menjadi lebih baik di hari-hari seterusnya dan aku bangga dengan proses itu...
Kawan, tampaknya kopi ku telah habis, hujan telah reda.
Sampai berjumpa di lembaran takdir berikutnya.
Tabik!

Komentar
Posting Komentar