Melihat Dengan Hati, Hati.
Sore itu hujan deras, aku duduk di kedai kopi. Baru saja menyelesaikan project terakhir dari UAS dengan hati yang cukup lega. Setelah segala hiruk pikuk semester 6 dan bergelut dengan modul dan riset akhirnya pengumpulan tugas terakhir telah bertemu tombol submit. Aku mencoba merefleksikan kembali hidup yang telah aku jalani belakangan ini. Lalu mengelola dan menata diri untuk menjadi lebih baik ke depannya. Aku berkaca pada hari-hari yang telah aku lewati. Kemudian bergumam, "sebenarnya siapa aku saat tidak ada orang lain yang melihatku?" Aku baru saja membaca tulisan Kak Rakean di Medium dengan judul "Wanginya Saf Pertama," beliau capture it beautifully bahwa terkadang diperlukan nudge sederhana untuk mendorong kita menjadi lebih baik. Entah itu berupa keharuman sajadah untuk memperpanjang sujud agar lebih lama ataupun hal lain yang menuntun mu untuk memperpanjang retensi kebaikan bahkan ketika realitas yang sangsi terhadap prinsip mu. Sebab pada akhirnya, ki...





