Peziarah yang Ditakdirkan Karam
Aku tidak suka kata "Karam," Rasanya itu kejam dan dingin. Dalam, tak bergeming, dan berhenti seperti menjatuhkan jangkar di zona abisal. Namun, aku sadar bahwa tidak semua "kenapa" di dunia ini memiliki "karena". Adakalanya kita hanya perlu merangkul apa yang sudah terjadi dan tidak perlu mengais untuk menemukan alasan di balik semua itu, selain bersangka baik. Suatu sore aku bercerita kepada karibku, tentang banyaknya pertimbangan sporadisku itu. Karibku yang sudah hafal sifatku dan tidak pernah lelah menjawab semua rasionalisasiku berkata, "Berhenti, Za. Itu hanya di kepalamu. Ikhlas, tidur, lupakan." I told them, " I wish i could, but I can't. It is a tangled mess. I need to fix it. " Berjalannya waktu, aku menyadari bahwa hidup tidak sehitam-putih itu. Dua nasihat yang saling bertentangan boleh jadi tidak saling eksklusif. Belajar ikhlas dan melupakan bukan berarti kita menumpulkan usaha dan hanya berdiam. Ikhlas pula berarti ...




