People See You as Deep as They Can See Themselves.

I took two-day break from phone. I did not consume social media, just went outside and walked, breathed, and said hi to the strangers. Pulang dan membaca buku lalu menonton MV Olivia Rodrigo—hal yang sudah lama kutunggu. My favorite musician since highschool. She is one of my inspirations to keep going in achieving dreams and creating arts. Capsuling and capturing my stage of life. For her it through music, it almost same as mine—we love the intimacy of words, but mine is through writing. I am Livies, by any chance. 

Jujur, aku menulis tergantung keinginanku, tidak terjadwal karena itu bagian dari hobiku saja—aku pikir. Ternyata, banyak yang terinspirasi pula untuk melakukan hal yang sama, bahkan ada yang pertama kali membuat akun blog dan mulai menulis karena melihat akun blogku. Rasanya bahagia karena dapat membuat orang lain lupa waktu dan menemukan apa hal baru yang menjadi ketertarikannya. Hidup ini saling menginspirasi, saling berbagi, dan itu membahagiakan sekali. Namun, tentu ini juga menjadi refleksiku, sebenarnya sejauh mana inspirasi dapat menggerakkan orang lain? Rasanya banyak inspirasi terjadi karena tidak diniatkan.

Ternyata ada suatu hal yang membuatku tersadar, seolah ditarik kembali kepada percakapan dengan ibu sewaktu dulu. Waktu itu, aku sedang main bersama teman-teman, lalu ada seorang yang bertanya kepadaku apa tips parenting yang diterapkan ortu kepadaku karena dia bingung kenapa selama kami berteman aku tidak pernah menggunakan cursing words (mungkin dia tidak tahu wkwk, canda). Secara semantik, aku tidak mempermasalahkan cursing words (contoh dijual terpisah) karena erat kaitannya dengan bentuk katarsis eskpresi yang kadang memang mewakili, tetapi mungkin aku tidak terbiasa saja menyematkannya dalam percakapan, jadi akupun tidak sadar ini juga diperhatikan. Aku bilang akan ku tanyakan kepada yang bersangkutan.

Pulang sekolah ku sampaikan amanah ini. Ibuku menjawab, “Tidak ada tips yang spesial dalam mendidik kalian, sebenarnya itu karena ayuk (panggilan untuk kakak perempuan di bahasa Palembang) dan adik adalah anak baik sehingga kalian yang mengeksekusi sesuatu karena diri kalian sendiri. Orang tua hanya mengarahkan, tidak bisa juga tanpa kesadaran dari anaknya, itu pilihan kalian. Kalian harus berterima kasih pada diri kalian sendiri.” Gimana nggak nambah kagum sama ibu sendiri ketika beliau menjawab seperti ini, menurutku ini wisdom yang sangat menyentuhku, beliau malah membalikkan untuk aku merefleksikan sesuatu kepada diriku sendiri. 
Source: Canva

Semakin ke sini pun aku semakin sadar bahwa bila kita terinspirasi terhadap sesuatu itu indikasi ada bagian dari diri kita yang terpanggil dan seharusnya itu tidak terlalu asing, itu sudah hadir. Di satu titik, diri ini menyadari bahwa, people see you as deep as they can see themselves. Jadi, terinspirasinya kamu terhadap orang lain adalah karena dirimu berefleksi terhadap dirimu sendiri diikuti dengan hadirnya resonansi ditengah-tengahnya. Kesadaran ini juga membawaku pada prinsip, aku harus peka terhadap sinyal yang diriku sendiri inginkan dan orang lain yang terinspirasi karenaku sejatinya bukan karenaku tetapi karena mereka yang melihatku dari sisi yang dipilih dan sejauh mana kedalaman mereka melihatnya.

Jadi memang kunci utamanya menyelami diri sendiri agar mampu melihat sesuatu juga lebih dalam dan belajar perlahan untuk meresapi sesuatu. Kalau kata mbak Olivia, ‘I pay attention to things that most people ignore.' Semoga, dengan memerhatikan detail-detail yang terlihat kecil yang sering terabaikan ini, kita dapat terus bertumbuh.

Tabik!
Source: Pinterest

Komentar

Postingan Populer